Masyarakat Jogja mengenal garis lurus imajiner yang melintang di Jogja, garis imajiner itu menghubungkan titik antara Merapi, Tugu dan Keraton Yogyakarta. Masyarakat Jogja menganggap garis itu memiliki makna yang cukup historis dan filosofis. Diantara maknanya adalah simbolisasi hubungan antara raja-rakyat dan Tuhan yang harmonis dan segaris, dilambangkan dengan garis lurus imajiner tadi.

Source by: yogyalagi
Source by: yogyalagi

Garis imajiner ini kemudian menjadi penting karena dipercaya oleh masyarakat Jogja memiliki nuansa spiritual yang cukup tinggi. Konon dari singgasananya Sultan Jogja bisa melihat garis lurus antara Tugu dan Merapi melalui Jalan Malioboro. Saking pentingnya garis imajiner ini di masyarakat Jogja, Pemerintah Kolonial Belanda pun berusaha meruntuhkan mitos garis imajiner ini, yaitu dengan membuat rel kereta api untuk memotong garis imajiner itu. Rel kereta api yang menyilang garis imajiner ini adalah gangguan dari Pemerintah Kolonial untuk garis imajiner yang sudah mengakar dalam masyarakat Jogja.

Source by: jokowarino
Source by: jokowarino

Namun mayoritas publik hanya mengenal 3 elemen garis imajiner ini, yaitu Merapi, Tugu dan Keraton. Padahal sebenarnya ada 5 titik yang menghubungkan titik tersebut menjadi sebuah garis imajiner lurus. 2 titik lain yang kerap terlupakan adalah Panggung Krapyak dan Pantai Parangkusumo. Jika garis lurus ini bertemu maka ada sebuah makna yang sebenarnya sangat nyambung, yaitu berawal dari Merapi sebagai gunung api, dan berakhir di Parangkusumo sebagai laut. Air dan Api, sebuah makna filosofis yang tak hanya sebuah garis khayal, namun juga simbolisasi keharmonisan elemen dalam alam, Air dan Api, Yin dan Yang yang terwujud dalam kearifan lokal masyarakat Jogja.

Source by: berkahroda
Source by: berkahroda

Agak sedikit dilupakan dari garis imajiner ini adalah Panggung Krapyak, yang merupakan elemen keempat dari sistematika garis lurus imajiner Jogja ini. Lokasinya ada di Krapyak, sekitar 2 kilometer di sebelah selatan Kraton dan sebenarnya sudah masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Bantul. Pangggung Krapyak ini berbentuk segi empat dengan bentuk bangunan mirip benteng di jaman dulu, Panggung ini oleh masyarakat Jogja juga dikenal dengan nama Kandang Menjangan. Bangunan kokoh ini berukuran 17,6 m x 15 m dengan tinggi kurang lebih 10 meter, terdiri dari 2 lantai, di lantai 1 ruangan panggung ini tersekat-sekat menjadi beberapa ruang. Usianya diperkirakan sudah 2 abad, pada sisi luar tembok sudah cukup kusam dan hitam, menggambarkan usia bangunan ini. Pada jaman dahulu, Krapyak adalah sebuah hutan lebat di selatan Keraton Jogja. Di hutan inilah banyak terdapat binatang liar dan kemudian menjadi tempat favorit berburu raja-raja Jogja. Maka dibangunlah panggung ini di tengah hutan Krapyak, sebagai tempat raja-raja Jogja berburu.

Baca Juga:  Berwisata Alam di Kebun Buah Mangunan
Source by: joglowisata
Source by: joglowisata

Alkisah ada raja Mataram yang benar-benar gemar berburu, namanya adalah Raden Mas Jolang atau dikenal juga dengan nama Panembahan Hanyakrawati, putra dari pendiri Kerajaan Mataram, Panembahan Senapati. Adalah kebiasaan Raden Mas Jolang untuk berburu ke Hutan Krapyak disertai bala tentara dan abdi dalemnya. Ketika sedang asyik berburu tiba-tiba ada seseorang yang menusuk Raden Mas Jolang hingga meninggal, pembunuh itu kemudian kabur, tak tertangkap. Untuk mengenang gugurnya Raden Mas Jolang, kemudian beliau juga dijuluki Panembahan Seda Ing Krapyak yang artinya adalah Raja yang gugur di Krapyak. Kemudian raja berikutnya yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi / Hamengkubuwono I, konon beliaulah yang mendirikan panggung ini, sebagai penanda bahwa kawasan di sekitar panggung adalah kawasan berburu. Selain itu panggung ini juga dijadikan sebagai pos pertahanan sisi selatan Keraton Jogja, disinilah ditempatkan bala tentara untuk menjaga perbatasan selatan Keraton Jogjakarta. Posisinya yang tinggi memungkinan Panggung Krapyak juga berfungsi untuk menara pengawas.

Kini Panggung Krapyak tetap kokoh berdiri, hanya kawasan yang dulunya merupakan hutan belantara, sekarang sudah menjadi kawasan pemukiman yang ramai. Perempatan di sekitar Panggung Krapyak pun selalu riuh oleh kendaraan bermotor. Namun dibalik itu semua, Panggung Krapyak sebenarnya merupakan satu dari 5 poros garis imajiner Jogja yang merupakan salah satu bangunan vital bagi masyarakat Jogja. Hanya saja letaknya yang agak di selatan mungkin menjadi kurang populer.

Bagaimanapun juga misteri garis imajiner Jogja menjadi simbol keseimbangan horizontal yang dilambangkan oleh Laut Selatan yang mencerminkan hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan Gunung Merapi melambangkan sisi horizontal yang mencerminkan hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Filosofi garis lurus imajiner dari Merapi hingga Laut Selatan ini sarat kearifan lokal.

Baca Juga:  Pantai Ngandong, Pasir Putihnya Sehalus Di Raja Ampat

Tags Populer:

garis imajiner jogja,filosofi posisi keraton tugu merapi,garis imaginer jogja,garis imajiner merapi kesultanan parangtritis,gunung merapi keraton pantai parangtritis,misteri panggung krapyak,mistis gunung merapi keraton jogja tugu jogja dan parang kusumo yang satu garis